Senin, 24 Desember 2012
Kemah
Aku memburu suara sunyi
agar lahir bunyi membangunkanku
memburu nafsi yang bernafsu memasuki-Mu
mulai mendamba berarus diurat nadiku
menjadi api yang menggali sepi
hangat merayap melafalkan-Mu
paras cinta yang meminta
memberi nostalgia
menunjukan jalan pada ruang khusu kita
bilik malam
membisik desah
dari getar bibir yang basah
diantar ratap mata
dengan beratus kisah
garis yang berbaris
menjajarkan kliseklise
menggaungkan hati menambah merana
O, aku sejauh ranah menahan nanah...
AKU: bertualang
Huruf-huruf itu hidup
membelah cakra membuka mata
jadi teman bagi dia yang cinta
terus dihirup, dengan haus tanpa degup
aku dan dia akrab
dari huruf yang berkata-kata
mengajak mata lembab
menjadi khusu karib mengenal-Nya
entah, ketika terpisah
raga seperti tanpa ruh
mata penuh duka
hati penuh hina
O, hidup
jadikan aku penghirup huruf yang hidup
seperti Lafzdul Jalah yang mengalir dalam darah.
CERMIN 100kata Nenek Yang Mempesona
Aura sejuk itu masih kudapat dari tatapan dan senyum Nenek Parmin. Perempuan setengah abad yang selalu berkerudung jingga warna favoritnya. Entah ia punya koleksi berapa puluh kerudung dengan warna yang sama. Adalah tetanggaku bersama cucu perempuan yang bernama Yuli.
Sudah jadi kebiasaan, setiap sore aku bermain gitar diteras rumah. Terdengar suara Nenek parmin dan Yuli beradu mulut.
"Kamu itu perempuan Yul, harus bisa menjaga kehormatan.
Tutuplah Auratmu"
pinta Nenek dengan sayangnya.
"Ah, nek kerudung tidak menjamin kehormatan itu terjaga, malah kerudung sudah banyak yang menyalah gunakan."
"Ya, maka dari itu kamu buktikan kebenaranya yul. Terjaga apa tidak"
tambah Nenek meyakinkan.
Sambil bringsut dari duduknya Yuli pun menjawab.
"Selama kepala ini masih ditumbuhi rambut, Yuli akan pelihara merawatnya dan gak bakal ditutupin indahnya."
Nenek dengan aura sejuk itu tiba-tiba menyinga wajahnya
"Selama kemaluanmu berambut, sekalian jangan kau sembunyikan dia dibalik celana.
Rabu, 03 Oktober 2012
Haiku: Perjalanan Rindu(lestari)
ku menunggumu
ku sabar kau menghindar
ku jadi hambar
jatuh terhimpit
rindu mati membisu
tinggalah kabut
tidak menunggu
tersiksa ingin temu
sudah terlambat
S U A
1/ Ayu
Mari bicara
Sampaikian sampai demikian
Aku dengarkan
Beserta ingatan juga kejadian
Mulailah...
Awalilah....
Jangan menatapku jika itu menambah bisu
Jangan tahan airmata jika kata masih kelu tertahan didada
...........................................................................
2/ D E N Y U T
Hening dari yang kau bawa
Buat jelas identitas khusu
Ditekuk sedikit
Engkau bungkuk tidak berdagu
Hanyut....
Lalu segala cemas yang ganas
Tidak perlu terlalu iba
Melihat pesta mereka bermabukan rasa
Apa kau lebih suka..???
Setelah meneguk dusta demi dusta
Lalu, hidangan dusta didustakan
Palingkan kita pada pemilik kita
Dengarkan....
Hening bening kemuning telusup.
............................................................................
3/ T E N A N G
Kau tidak menyukai ruang tamu ini..??
Aku punya kamar
Ada bilik berpentilasi
Kalau ada suara, jadi langsung terdengar
Mengukuh riadhoh tidak jenuh
Dekappeluk biar dari belakang
Temani hari ini saja.!
Besok, biar kita kenang jadi hari ini
Engkau cukup duduk dekat aku
Disini, sebelahku
Jadi wewangi, nafsi kecap asih-Nya
Jauh riuh teduh kesidratul muntaha
..............................................................................
oleh Ibnu 'Ziddan pada 7 Januari 2012 pukul 14:14
Dari Cidahu 07/01/'12
Mari bicara
Sampaikian sampai demikian
Aku dengarkan
Beserta ingatan juga kejadian
Mulailah...
Awalilah....
Jangan menatapku jika itu menambah bisu
Jangan tahan airmata jika kata masih kelu tertahan didada
...........................................................................
2/ D E N Y U T
Hening dari yang kau bawa
Buat jelas identitas khusu
Ditekuk sedikit
Engkau bungkuk tidak berdagu
Hanyut....
Lalu segala cemas yang ganas
Tidak perlu terlalu iba
Melihat pesta mereka bermabukan rasa
Apa kau lebih suka..???
Setelah meneguk dusta demi dusta
Lalu, hidangan dusta didustakan
Palingkan kita pada pemilik kita
Dengarkan....
Hening bening kemuning telusup.
............................................................................
3/ T E N A N G
Kau tidak menyukai ruang tamu ini..??
Aku punya kamar
Ada bilik berpentilasi
Kalau ada suara, jadi langsung terdengar
Mengukuh riadhoh tidak jenuh
Dekappeluk biar dari belakang
Temani hari ini saja.!
Besok, biar kita kenang jadi hari ini
Engkau cukup duduk dekat aku
Disini, sebelahku
Jadi wewangi, nafsi kecap asih-Nya
Jauh riuh teduh kesidratul muntaha
..............................................................................
oleh Ibnu 'Ziddan pada 7 Januari 2012 pukul 14:14
Dari Cidahu 07/01/'12
Batu karang & lautan
ibu....
jangan tanyakan,
apa lagi menatap heran
disemayam malam masih ingkar
ya...qolbu nun fitroh muram, betul!
ibu...
hendak kemana, derap masih merayap,
gerak setapak jadi jejak
identitas semakin jelas
ibu...
senyum saja, atau beri lagi mainan dulu
lupa segala rupa dunia
terus aku ikut arus teras yang terurus,
kemudian ibu bisa duduk tenun nun dihalaman
ibu...
muara zamzam belum kutemui
bahkan airnya selalu kering ketika 'toharoh
tapi ubun ku sudah berambut 'bu
bisa dilihatkan..??
ibu...
tasbih baru bisa jadi sovenir
waktu kemarin pamit, dia kutaruh disaku celana,
tapi aku bawa bu, cuma belum bisa dia tetap ditangan
jadi curah sholawat masih seukur sahwat ingat
ibu...
apa masih ada yang dahulu ketika aku sehat
obat yang dulu agar tetap kuat
menggendong ibu biar sampai ke ba'ieturahman
kita bisa bersama pautkan rindu dimaqomnya
ibu...
bertahan saja dirumah
sekarang ini anakmu masih urusi terus urusan
biar cuma sebungkussebungkus, aku saja terus mengurus
terima ya....
'' wahai jiwa yang mengetahui sang penggenggam-Nya
bakarlah....
jadi satu
utuh
kukuh
tidak lagi selingkuh....
mengingat-Nya
seluruh
tunduk
rindu jalari
segera era erat...''
jangan tanyakan,
apa lagi menatap heran
disemayam malam masih ingkar
ya...qolbu nun fitroh muram, betul!
ibu...
hendak kemana, derap masih merayap,
gerak setapak jadi jejak
identitas semakin jelas
ibu...
senyum saja, atau beri lagi mainan dulu
lupa segala rupa dunia
terus aku ikut arus teras yang terurus,
kemudian ibu bisa duduk tenun nun dihalaman
ibu...
muara zamzam belum kutemui
bahkan airnya selalu kering ketika 'toharoh
tapi ubun ku sudah berambut 'bu
bisa dilihatkan..??
ibu...
tasbih baru bisa jadi sovenir
waktu kemarin pamit, dia kutaruh disaku celana,
tapi aku bawa bu, cuma belum bisa dia tetap ditangan
jadi curah sholawat masih seukur sahwat ingat
ibu...
apa masih ada yang dahulu ketika aku sehat
obat yang dulu agar tetap kuat
menggendong ibu biar sampai ke ba'ieturahman
kita bisa bersama pautkan rindu dimaqomnya
ibu...
bertahan saja dirumah
sekarang ini anakmu masih urusi terus urusan
biar cuma sebungkussebungkus, aku saja terus mengurus
terima ya....
'' wahai jiwa yang mengetahui sang penggenggam-Nya
bakarlah....
jadi satu
utuh
kukuh
tidak lagi selingkuh....
mengingat-Nya
seluruh
tunduk
rindu jalari
segera era erat...''
oleh Ibnu 'Ziddan pada 30 Januari 2012 pukul 17:11
Catatan, 01 November 1983 (kepada sajak)
·
Kemana kau pejalan kata-kata?
kau begitu saja lari sampai tak peduli aku.
Dimanakah kau sekarang harapan?
Bantulah aku membentuk keaku-akuanku.
Kau tidak menyapaku..
Sampai kapan kau kaku terbujur dan lelah,
begitu saja acuh tak peduli aku.
Kemarilah seperti dahulu,
kau lahirkan aku dari kandungan bunyi
diantara sunyi dan nyeri.
Seperti diksi-diksi yang membuat kita berdua romantis,
senyum dengan mengingat perjalanan-perjalan kita.
Buatlah aku kembali merawat sajak-sajaku
lihat saja, ini khalwatku.
Mataku mulai terbuka menerka-nerka dunia.
Mataku mulai intim menangkap makna dunia.
Akan kutulis. kutulis kenapa kau lahir.
Dari ketika kau terbata-bata,
sampai kelak kau rabun dan tua.
Hey...
Seharunya kau memberi makna pada siapa saja penikmatmu
atau kau masih ragu karna mereka sering mencemo'ohimu..?
Bahasa kesunyian memang membuat kau sering dijauhi.
Bahkan aku juga sering menelantarkanmu berserakan dimana-mana.
Ketika aku senang apa lagi.
Maaf jika aku datangimu ketika susah saja, ketika sedih saja,
dan ketika aku merasakan pilu saja.
Rujuklah denganku karna aku ingin kau hadir dalam segala kejujuran perasaanku
Bilamana aku mengira-ngira syu'urku, kau jangan tertawa.
Karna aku suka konyol mencubuimu, rancu menyandingkan tiap-tiap larik dari yang ku lirik.
Maka segeralah buat aku dewasa.
Bila aku ingin apa, segeralah beritau aku kau ada diantara makna-makna dunia.
Kita rujuk
oleh Ibnu 'Ziddan pada 12 Maret 2012 pukul 14:24
kau begitu saja lari sampai tak peduli aku.
Dimanakah kau sekarang harapan?
Bantulah aku membentuk keaku-akuanku.
Kau tidak menyapaku..
Sampai kapan kau kaku terbujur dan lelah,
begitu saja acuh tak peduli aku.
Kemarilah seperti dahulu,
kau lahirkan aku dari kandungan bunyi
diantara sunyi dan nyeri.
Seperti diksi-diksi yang membuat kita berdua romantis,
senyum dengan mengingat perjalanan-perjalan kita.
Buatlah aku kembali merawat sajak-sajaku
lihat saja, ini khalwatku.
Mataku mulai terbuka menerka-nerka dunia.
Mataku mulai intim menangkap makna dunia.
Akan kutulis. kutulis kenapa kau lahir.
Dari ketika kau terbata-bata,
sampai kelak kau rabun dan tua.
Hey...
Seharunya kau memberi makna pada siapa saja penikmatmu
atau kau masih ragu karna mereka sering mencemo'ohimu..?
Bahasa kesunyian memang membuat kau sering dijauhi.
Bahkan aku juga sering menelantarkanmu berserakan dimana-mana.
Ketika aku senang apa lagi.
Maaf jika aku datangimu ketika susah saja, ketika sedih saja,
dan ketika aku merasakan pilu saja.
Rujuklah denganku karna aku ingin kau hadir dalam segala kejujuran perasaanku
Bilamana aku mengira-ngira syu'urku, kau jangan tertawa.
Karna aku suka konyol mencubuimu, rancu menyandingkan tiap-tiap larik dari yang ku lirik.
Maka segeralah buat aku dewasa.
Bila aku ingin apa, segeralah beritau aku kau ada diantara makna-makna dunia.
Kita rujuk
oleh Ibnu 'Ziddan pada 12 Maret 2012 pukul 14:24
Langganan:
Postingan (Atom)

