Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Desember 2012

Kemah


Aku memburu suara sunyi
agar lahir bunyi membangunkanku
memburu nafsi yang bernafsu memasuki-Mu

mulai mendamba berarus diurat nadiku
menjadi api yang menggali sepi
hangat merayap melafalkan-Mu

paras cinta yang meminta
memberi nostalgia
menunjukan jalan pada ruang khusu kita

bilik malam
membisik desah
dari getar bibir yang basah
diantar ratap mata
dengan beratus kisah

garis yang berbaris
menjajarkan kliseklise
menggaungkan hati menambah merana
O, aku sejauh ranah menahan nanah...

AKU: bertualang


Huruf-huruf itu hidup
membelah cakra membuka mata
jadi teman bagi dia yang cinta
terus dihirup, dengan haus tanpa degup

aku dan dia akrab
dari huruf yang berkata-kata
mengajak mata lembab
menjadi khusu karib mengenal-Nya

entah, ketika terpisah
raga seperti tanpa ruh
mata penuh duka
hati penuh hina

O, hidup
jadikan aku penghirup huruf yang hidup
seperti Lafzdul Jalah yang mengalir dalam darah.

Rabu, 03 Oktober 2012

S U A


1/ Ayu

Mari bicara
Sampaikian sampai demikian

Aku dengarkan
Beserta ingatan juga kejadian

Mulailah...
Awalilah....

Jangan menatapku jika itu menambah bisu
Jangan tahan airmata jika kata masih kelu tertahan didada

...........................................................................



2/ D E N Y U T

Hening dari yang kau bawa
Buat jelas identitas khusu

Ditekuk sedikit
Engkau bungkuk tidak berdagu

Hanyut....
Lalu segala cemas yang ganas

Tidak perlu terlalu iba
Melihat pesta mereka bermabukan rasa

Apa kau lebih suka..???
Setelah meneguk dusta demi dusta

Lalu, hidangan dusta didustakan
Palingkan kita pada pemilik kita

Dengarkan....
Hening bening kemuning telusup.

............................................................................
 

3/ T E N A N G

Kau tidak menyukai ruang tamu ini..??
Aku punya kamar

Ada bilik berpentilasi
Kalau ada suara, jadi langsung terdengar

Mengukuh riadhoh tidak jenuh
Dekappeluk biar dari belakang

Temani hari ini saja.!
Besok, biar kita kenang jadi hari ini

Engkau cukup duduk dekat aku
Disini, sebelahku

Jadi wewangi, nafsi kecap asih-Nya
Jauh riuh teduh kesidratul muntaha

..............................................................................


oleh ‎Ibnu 'Ziddan‎ pada ‎‎7 Januari 2012‎ pukul ‎14:14‎
Dari Cidahu 07/01/'12

Jumat, 14 September 2012

" Mata hari " perkenalan puisi dengan pola 4444

rona pagi tiba lagi
buru mata dimuka dini
siap niat jamu hari
cari diri di muka bumi

muka di kaca luka usia
kaki kaku bawa dosa
usia dini kian usai
dulu tuan kini di mana

ahay, duka kita yang lalu
di masa muda kita dulu
tiap hari sita diri
jadi igau tiap raut

impi jadi duka saja
kian tepi, jadi debu
usai usia kita ke mana
tuan, usap luka hari!!!

Sabtu, 08 September 2012

M(alam)alam Lain

Gigi yang lancip itu sudah membuat luka
Dari mulutmu, lakumu
Jauh...
Dan usia sudah sampai pada sekian

Malam sudah mencatat satu per satu kejadian
Membungkusnya pada selimut tebal yang hangat
Kita didekap, dibuai, lelap.


"Apakah pagi yang datang itu bersama janji"
Kita menyeret selimut
Sinar yang lancip menembus tiap celahnya.
Tapi malam tak mau juga mau henti
Masih saja memberi tanda dikepala

"Bukan pada pagi yang ingkar janji"
Kau, tapi sepakat masih sembunyi dalam keranjang
Apakah aku menyalahkanmu?

"Maaf"
Aku tidak  malam itu ada bulan
Kau diam, dan kita semakin nyaman
Dan pagi selalu ada janji untuk menyeret selimut itu kemana.

Rabu, 11 Juli 2012

Yatim..

Jika kau curi hati ini
Hendak kemana kucari kau?
Suara sudah parau kau tetap rayu-rayu..
Sampai telanjang tetap kau lucuti..
Ulang kau tetap tak pulang,
Lari ria dan tertawa saja..

Jika kau curi hati ini..
Hendak kemana lagi ku cari kau??
Kau sudah ku cerai..
Serta kuala sudah penuh kau jejal-jejal..
Kau ingin rujuk dan aku mabuk kepayang..
Bukankah kita sudah BERCERAI...? 

Jika kau curi hati ini..
Hendak kemana lagi ku cari kau?
Pada muasal, yang lahir cekungan sunyi
"Ah, kau tidak bisa berkata-kata"
Aku tersuruk dalam pengap
Melipat jemari, sembunyi digemetar wajah sendiri

Jika kau curi hati ini..
Hendak kemana lagi ku cari kau?
Kita sudah bercerai
Dan  yatim tetap akan menjadi takdir penerimaanku
Warna sunyi, rahim debu
Ibni Mabnie Nur - 05 April 2010 22:55